Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

8 Film Kim Ki-duk Terbaik

Kim Ki-duk.jpg

Kim Ki-duk adalah seorang sutradara, penulis skenario dan produser asal Korea Selatan yang lahir pada tanggal 20 Desember 1960.

Ki-duk mengawali kariernya sebagai sutradara lewat film low budget pada tahun 1996 yakni "Crocodile". Ki-duk sebelumnya belum pernah mengikuti pendidikan formal tentang film namun ia tiba-tiba saja muncul lewat film-film dengan konsep yang tidak biasa dan menuai kontroversi. Sampai saat ini ia sudah menjadi sutradara di lebih dari 20 film dimana di beberapa filmnya ia juga merangkap sebagai penulis naskahnya, dan ciri khas film-film yang diarahkan oleh Ki-duk adalah bernuansa kelam dan penuh dengan adegan-adegan disturbing seperti kekerasan yang ekstrem serta adegan seks.

Meskipun setiap filmnya selalu memuat konten yang terkesan negatif namun jika ditilik dari sudut pandang yang berbeda film Ki-duk memiliki kualitas di atas rata-rata. Coba kalian tidak menilai karya-karyanya dari sisi negatifnya saja, karena film-film Ki-duk selalu memiliki makna yang mendalam tentang kehidupan manusia.

"I always ask myself one question: What is human? What does it mean to be human? Maybe people will consider my new films brutal again. But this violence is just a reflection of what they really are, of what is in each one of us to certain degree" - Kim Ki-duk

Ki-duk adalah salah satu sutradara film Asia yang diakui dunia. Salah satu prestasinya adalah ia menjadi sutradara Korea Selatan pertama yang pernah memenangkan penghargaan di tiga festival film terbesar di dunia yakni Venice Film Festival, Berlin International Film Festival dan Cannes Film Festival. Sayangnya, ia seperti ditolak di negaranya sendiri. Kebanyakan film Ki-duk tidak ada yang meraih kesuksesan secara komersial di Korea Selatan, bahkan ada yang sampai dilarang tayang, filmnya lebih terkenal di luar Korea Selatan.

Terlepas dari semua kontroversinya menurut saya dia adalah sosok sutradara yang menarik dan kreatif. Filmnya selalu punya daya tarik dan ciri khas tersendiri. Meskipun filmnya selalu tampil ekstrem tapi itu adalah caranya meluapkan ekspresi dan pikirannya lewat karya seni yang disebut film. Setiap sutradara punya cara mereka masing-masing untuk menyampaikan pesan mendalam di filmnya dan cara Ki-duk adalah dengan nuansa kelam dan konten ekstrem. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya cara yang salah tapi bagi saya itu kembali pada penonton sendiri, jika kita menilai film-film Ki-duk dari sisi kontennya yang terlalu keras maka jelas kita akan memiliki stigma negatif terhadap film-film Ki-duk tapi jika kita mencoba mengesampingkan konten kerasnya dan mencari makna serta apa yang ingin disampaikan Ki-duk maka penilaian kita terhadap film-film Ki-duk akan berbeda.

Cari khas lainnya dari film-film arahan sutradara berusia lebih dari setengah abad tersebut adalah dialognya yang amat sangat minim bahkan ada satu filmnya yang benar-benar bisu alias tanpa dialog sepatah kata pun. Itu adalah salah satu hal yang keren, Ki-duk menunjukan kita seni dari film yang unik, ia tidak menyematkan terlalu banyak dialog seperti sinetron-sinetron kita yang bahkan pikiran tokoh saja disampaikan dalam bentuk suara, Ki-duk tidak seperti itu. Film-film Ki-duk tidak bercerita dengan kata-kata namun dengan gambar-gambar sunyi yang begitu indah. Dengan dialog yang sedikit ia membiarkan penonton mengambil kesimpulan sendiri dari ekspresi, gestur dan sikap tubuh para pemeran di filmnya. Hal ini juga menjadi tantangan bagi aktor dan aktris yang bermain di film-film Ki-duk.

Kabarnya, setelah selesai menulis skenario biasanya Ki-duk menghapus semua dialognya dan hanya menyisakan bagian yang pentingnya saja.

"I don't think that the spoken words solve everything. Sometimes silence delivers truers feelings while the words can distort the meaning in some situations" - Kim Ki-duk

Selain identik dengan karakter-karakter bisu, karakter-karakter yang ada di film Ki-duk juga kerap kali melakukan hal-hal mengerikan dan tak terduga. Maka jangan heran karakter-karakter di film-film Ki-duk akan membuat kita geleng-geleng kepala.

Sekarang saya akan memberikan kalian list film-film Kim Ki-duk terbaik versi saya sendiri tentunya. Untuk perhatian, film-film yang ada di daftar ini memuat kekerasan yang eksplisit dan adegan seks jadi anak dibawah umur mohon minggir. Untuk kesekian kali saya bilang film-film Ki-duk adalah film dengan konten ekstrem, meskipun berasal dari Korea Selatan yang terkenal dengan dramanya yang bisa bikin baper tapi film-film Ki-duk bukan film romantis melainkan film yang akan membuat kita mual dan kagum dalam waktu bersamaan.

Berikut 8 Film Kim Ki-duk Terbaik Versi AzizPedia

1. The Isle (2000)

Di rilis pada tanggal 22 April 2000, film "The Isle" disutradarai oleh Kim Ki-duk yang juga merangkap sebagai penulis skenarionya sementara di bagian produser ada Lee Eun. Film yang diproduksi oleh Myung Films ini merugi dari budget yang diperkirakan mencapai $50 ribu, "The Isle" hanya meraup $20.666. Tapi, film ini menjadi film Ki-duk pertama yang ikut dalam kompetisi Venice Film Festival.

"The Isle" menceritakan seorang wanita bernama Hee-jin (Suh Jung) yang bekerja sebagai pengurus resort memancing yang juga menyewakan penginapan mengapung. Disana ia juga menyediakan jasa pelayanan PSK untuk pelanggannya dari PSK setempat atau sering kali dia sendiri yang melayani para pelanggannya. Suatu ketika datanglah Hyun-shik (Kim Yu-seok) yang merupakan seorang buronan polisi atas tindakan pembunuhan yang ia lakukan. Perlahan hubungan cinta aneh antara Hee-jin dan Hyun-shik mulai tumbuh.

Film ini terkenal karena saat pemutarannya di Venice Film Festival ada penonton yang muntah sampai pingsan karena adegan disturbing di film ini, sedikit bocoran adegan disturbing-nya berkaitan dengan kail pancing. Selain itu di film ini juga terdapat beberapa adegan penyiksaan hewan dan Ki-duk mengakui sendiri kalau adegan itu nyata dan memakai hewan sungguhan.

Ini memang film bertemakan cinta namun kisah cintanya jauh dari kata romantis. Kisah cinta yang disuguhkan disini adalah kisah cinta depresif yang penuh dengan keputusasaan. Merujuk pada judulnya sendiri, Ki-duk nampaknya ingin menunjukkan bahwa individu tiap manusia itu adalah bagaikan sebuah pulau yang hidup sendiri-sendiri secara terpisah-pisah, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan akan ada yang berlabuh disana.

2. Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring (2003)

Sama seperti di film sebelumnya, di "Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring" Kim Ki-duk juga menjadi sutradara sekaligus penulis ceritanya. Film yang dirilis pada tanggal 19 September 2003 ini diproduksi oleh LJ Film dan Pandora Film serta berhasil mengumpulkan pendapatan sebanyak $9,53 juta.

"Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring" menceritakan kehidupan anak kecil yang dirawat oleh seorang biksu di sebuah kuil mengapung di tengah danau. Film ini terbagi menjadi empat bagian yakni Spring, Summer, Fall, Winter dan Spring lagi. Setiap bagian akan memperlihatkan si anak kecil yang mulai tumbuh dari seorang bocah, menjadi ramaja lalu dewasa.

Film ini mendapatkan rating 8,1/10 di IMDb, tentu saja tidak akan ada yang protes dengan rating tersebut karena ini memang salah satu film yang memiliki keindahan dari semua sisi.

Dari segi cerita, film ini menyuguhkan siklus kehidupan manusia dimana kehidupan manusia akan berputar dan kebahagian serta kesedihan akan datang silih berganti.

"I intended to portray the joy, anger, sorrow and pleasure of our lives through four seasons and through the life of a monk who lives in a temple on Jusan Pond surrounded only by nature." - Kim Ki-duk

Seperti kebanyakan film Ki-duk, "Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring" juga tak punya terlalu banyak dialog. Film ini menuturkan cerita dengan scene sunyi yang benar-benar indah. Itu tak terlepas dari lokasi syutingnya yang sangat indah yakni Danau Jusanji di Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan. Kabarnya, LJ Film selaku rumah produksi film ini butuh waktu enam bulan untuk negosiasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup agar mendapatkan izin syuting di tempat tersebut.

Film ini masih memiliki adegan penyiksaan hewan dan ada adegan seksnya juga tapi abaikan hal itu maknai saja cerita film ini dan nikmati adegan-adegan sunyi dengan pemandangan super duper indahnya. Ada beberapa adegan metafora di film ini dan silakan kalian mengambil kesimpulan masing-masing dari adegan tersebut.

3. 3-Iron (2004)

Ki-duk di "3-Iron" menjadi sutradara, produser sekaligus penulis naskah ceritanya. Film ini di rilis pada tanggal 15 Oktober 2004 dan di distribusikan oleh Big Blue Film.

Tae-suk (Jae Hee) adalah seorang pemuda yang tidak memiliki tempat tinggal. Ia biasanya menempelkan selembaran di setiap pintu rumah lalu selang beberapa waktu kemudian ia akan kembali lagi untuk memeriksa selembaran tersebut. Jika selembaran tersebut masih menempel di pintu maka kemungkinan di rumah tersebut sedang tidak ada penghuninya. Tae-suk pun akan masuk ke rumah tersebut tapi tidak untuk mencuri. Ia hanya menumpang tinggal di dalamnya, seperti menumpang mandi, tidur, menonton TV bahkan ia kerap kali memperbaiki alat elektronik yang rusak di rumah tersebut. Suatu hari ketika melancarkan aksinya ia tidak tahu kalau di rumah yang ia sangka tidak ada penghuninya ternyata ada seorang wanita bernama Sun-hwa (Lee Seung-yeon), ia adalah seorang istri korban KDRT. Mereka pun saling jatuh cinta.

Hal yang unik di film ini adalah tidak ada dialog antara dua tokoh utamanya. Ki-duk ingin menunjukan dalam sebuah hubungan kata-kata bukan yang utama tapi perbuatanlah yang paling penting dalam sebuah hubungan.

"it's hard to tell that the world we live in is either a reality or a dream" adalah tagline film ini yang muncul di akhir film. Tagline tersebut membuat orang-orang menyimpulkan sendiri ending dari film ini, ada yang berpendapat kedua tokoh utama akhirnya benar-benar hidup bersama meskipun mereka tidak benar-benar hanya berdua dan ada juga yang berpendapat itu hanya imajinasi saja dari salah satunya. Inilah kehebatan Ki-duk, ia bisa membuat setiap penonton punya ending-nya masing-masing.

4. Samaritan Girl (2004)

Yeo-jin (Kwak Ji-min) dan Jae-yeong (Han Yeo-reum) adalah sepasang kekasih lesbian yang ingin berkunjung ke Eropa. Untuk bisa mewujudkannya, Jae-yeong menjual diri dan Yeo-jin berperan sebagai penghubung dengan para pelanggan sekaligus mengawasi keadaan saat Jae-yeong melayani para pelanggan.

Sebuah tragedi terjadi yang membuat Jae-yeong tewas. Karena tragedi tersebut Yeo-jin menyalahkan dirinya sendiri, ia pun berniat mengembalikan semua uangnya kepada para pelanggan namun bukan hanya sekedar mengembalikan, Yeo-jin juga melayani mereka sama seperti yang dilakukan Jae-yeong. Yeo-jin mungkin ingin merasakan penderitaan yang dirasakan Jae-yeong sebagai penebusan rasa bersalahnya.

Ada juga Yeong-ki (Lee Eol), ayah dari Yeo-jin yang tahu apa yang dilakukan sang anak. Yeong-ki mencoba menghentikannya dengan cara memperingatkan para pelanggan agar tidak menemui anaknya.

Di film ini diperlihatkan bagaimana keperawanan bukan hal yang mahal di zaman sekarang. Dua karakter Jae-yeong dan Yeo-jin masih sekolah, itu menunjukkan pada masa-masa itulah keperawanan seorang gadis hilang. Mirisnya, Indonesia yang memegang adat ketimuran juga sudah terkontaminasi akan hal ini.

Meskipun "Samaritan Girl" menceritakan tentang dunia prostitusi tapi adegan seks hampir tidak ada di film ini.

5. The Bow (2005)

Film yang di Korea Selatan berjudul "Hwal" ini megisahkan seorang gadis muda berusia 16 tahun (Han Yeo-reum) yang tinggal di sebuah kapal pemancingan bersama seorang kakek (Jeon Seong-hwang). Si gadis tidak pernah mengenal dunia luar karena dari kecil saat ia mulai dirawat oleh si kakek ia tak pernah pergi ke daratan. Beredar kabar kalau si kakek akan menikahi si gadis saat ulang tahunnya yang ke-17. Keadaan berubah ketika kapal pemancingan tersebut kedatangan seorang pemuda (Seo Ji-seok) yang membuat si gadis jatuh cinta.

Kembali Ki-duk mengangkat tema percintaan kedalam filmnya namun masih dengan percintaan versi dirinya yang jauh dari kata romantis. Di film ini ia menggambarkan cinta seperti busur panah dimana busur panah jika digunakan dengan benar seperti contohnya untuk berburu maka akan bermanfaat pun begitu dengan cinta, jika digunakan dengan baik bisa mendatangkan kenyamanan dan kebahagian. Namun, jika digunakan dengan cara yang tidak benar baik itu busur panah atau cinta bisa menyakiti manusia.

Karakter tanpa dialog masih dipertahankan Ki-duk di film ini tapi adegan seksnya tidak terlalu eksplisit. Latar tempatnya seperti di film "Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring" yakni berlatar satu tempat saja di kapal pemancingan, tak ada scene di daratan di film ini.

Dalam film yang berdurasi 90 menit ini Ki-duk merangkap menjadi sutradara, produser sekaligus penulis naskah ceritanya. Film ini di rilis pada tanggal 12 Mei 2005 dan berhasil mendapatkan penghasilan sebanyak $2 juta dari estimasi biaya $950 ribu.

6. Pieta (2012)

Lee Kang-do (Lee Jung-jin) adalah seorang debt collector yang menagih hutang dengan cara yang sadis. Ia tak segan-segan membuat orang yang ia tagih cacat agar si orang tersebut bisa membayar dengan uang asuransinya. Kang-do tak punya belas kasihan karena ia tak pernah merasakan kasih sayang bahkan dari kedua orang tuanya sekalipun. Lalu datang Jang Mi-sun (Jo Min-su) yang mengaku sebagai ibu kandung Kang-do yang sudah menelantarkannya sejak kecil. Tentu saja Kang-do tak langsung percaya namun perjuangan Mi-sun untuk meyakinkan Kang-do kalau dia adalah ibu kandungnya sedikit demi sedikit membuat Kang-do luluh. Perlahan sifat bengis Kang-do mulai berkurang dengan adanya kasih sayang seorang ibu di hidupnya, bahkan ia berhenti dari pekerjaan sadisnya karena takut ada yang menyakiti Mi-sun. Bagaimana akhir kisah Kang-do dan Mi-sun?

Di "Pieta", Ki-duk menjadi sutradara dan penulis ceritanya sementara di bagian produser ia dibantu Kim Soon-mo. "Pieta" berhasil menyuguhkan pemandangan Korea Selatan yang tak biasa, di film ini daerah pinggiran Korea Selatan berhasil terekspos dengan sangat baik dan menambah nuansa dark di film ini.

Semua yang ada di film ini sudah menjadi ciri khas Ki-duk dari mulai dialog yang minim, adegan disturbing serta sifat tokoh yang tak bisa ditebak ada disini.

Film yang dirilis pada tanggal 6 September 2012 ini menyadarkan kita kalau yang namanya kasih sayang adalah sesuatu yang penting, tanpa kasih sayang seseorang menjadi sangat brutal.

7. Moebius (2013)

"Moebius" adalah film Ki-duk yang pertama kali saya tonton dan film ini merupakan film paling "sakit" dari Ki-duk.

"Moebius" menceritakan sebuah keluarga disfungsional yang terdiri dari si ayah (Cho Jae-hyun), si anak (Seo Young-joo) dan si ibu (Lee Eun-woo). Kenapa saya sebut si ayah, si anak dan si ibu? Karena di film ini tidak disebutkan nama-nama tokohnya. Si ibu memergoki si ayah berselingkuh, karena marah si ibu berniat memotong kelamin si ayah saat tidur namun si ayah terbangun dan niat si ibu gagal. Akhirnya, si ibu melampiaskannya pada anaknya, si ibu memotong kelamin si anak saat si anak tidur. Si ayah akhirnya diselimuti rasa bersalah dan ia mencari cara agar si anak bisa merasakn kenikmatan seksual tanpa kelamin.

Membaca sinopsisnya saja sudah membuat kita jijik bukan. Film ini memang gila, saya berani bilang dari semua film yang sudah saya tonton film ini menjadi salah satu film dengan konsep dan konten tergila.

Pemotongan kelamin disini tak terjadi sekali saja, pokoknya siap-siap kalian akan melihat karya "tergelap" dari Ki-duk. Kalian mau tahu cara si anak mendapatkan kepuasan seksual tanpa kelamin? Pokoknya tonton sendiri deh, caranya benar-benar di luar dugaan.

Pokoknya jika kalian penikmat film yang ramah dan tak terbiasa menonton film beginian sebaiknya menyingkir sebelum kalian muntah.

"Moebius" juga tak lepas dari pesan mendalam ala-ala Ki-duk. Ia menggambarkan sifat manusia yang membutuhkan kepuasan seksual dan itu memang benar adanya, manusia memang tak pernah bisa lepas dari yang namanya birahi. Itu adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Disini juga diperlihatkan sisi tergelap dari diri manusia.

8. The Net (2016)

"The Net" adalah sebuah film drama Korea Selatan yang ditulis dan disutradarai oleh Kim Ki-duk. Film sempat ditayangkan di Toronto International Film Festival 2016.

"The Net" menceritakan seorang nelayan asal Korea Utara bernama Nam Chul-woo (Ryoo Seung-bum) yang mengalami kerusakan pada mesin perahunya sampai ia terseret ke wilayah Korea Selatan. Disana ia diinterogasi secara semena-mena.

Sebelum film "The Net" ini, Ki-duk sempat menulis dua film yakni "Red Family" dan "Poongsan" yang juga mengangkat tema serupa, konflik Korea Utara dan Selatan.

Ki-duk sepertinya mencoba membuat semuanya terlihat seimbang, baik Selatan maupun Utara diperlihatkan sifat buruk mereka, namun tetap saja bagi saya kelihatannya Utara yang lebih bermasalah. Ki-duk coba mengangkat banyak isu sosial terkait konflik negara tetangga tersebut, mungkin untuk orang Korea bisa relate tapi untuk kita orang Indonesia rasanya isu tersebut tidak terlalu cocok.

Baca juga: Film-Film Zombie Terbaik Sepanjang Masa (Part 1)

Itulah daftar film-film terbaik dari Kim Ki-duk. Jika kalian suka dengan gaya penyutradaraannya silakan tonton film-film di atas. Ada beberapa lagi film Ki-duk yang belum saya tonton, ada juga yang sudah saya tonton namun kurang memuaskan bagi saya pribadi, alhasil film-film di atas lah yang menurut saya karya-karya terbaik dari Ki-duk. Kalian boleh setuju boleh tidak dengan daftar di atas.

Sumber gambar:
www.imdb.com

Keywords: Need Update, kim ki duk wiki, arirang, películas, time, 3 iron, filmaffinity, spring summer fall winter and spring, film kim ki-duk, crocodile, stop movie, breath, korean film director, film locataires, filmography, daftar film, list, biodata, biografi, informasi lengkap, profile

Posting Komentar untuk "8 Film Kim Ki-duk Terbaik"